Kamis, November 27, 2008

Hasil Lokakarya PD-Pos Gizi di Teluk Dalam

”POSITIVE DEVIANCE - POS GIZI”

Suatu Strategi Berkesinambungan dalam Upaya Perbaikan Gizi

Di Kecamatan Teluk Dalam dan Lagundri

Mengapa ?

Hasil survey Kesehatan Ibu dan Anak di wilayah kecamatan Teluk Dalam dan Lagundri pada tahun 2007 yang dilakukan oleh SEAMEO-TROPMED–UI menunjukkan angka prevalensi Balita gizi kurang dan buruk berdasarkan berat badan per umur sebesar 32,2%. Sementara hasil skrining pada bulan Agustus 2008 diwilayah Program Kesehatan Berbasis Masyarakat (PKBM) yang dilakukan oleh staf SurfAid dan kader Posyandu bahkan lebih tinggi yaitu mencapai sebesar 37% dari 1.113 anak balita. Solusi terhadap tingginya angka prevalensi tersebut membutuhkan suatu strategi yang tepat, cepat dan berkesinambungan dalam upaya mengurangi angka kekurangan gizi. Pendekatan PD (Positive Deviance)-Pos Gizi diyakini oleh berbagai lembaga yang pernah melaksanakan Pos Gizi merupakan salah satu strategi yang efektif dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kecerdasan anak di waktu yang akan datang.

Keberhasilan pelaksanaan Pos Gizi dengan pendekatan ini sangat ditentukan oleh komitmen dan keterlibatan penuh semua pihak terutama Dinas Kesehatan, Puskesmas, pemerintah kecamatan, desa dan masyarakat. Atas dasar itu maka pada tanggal 7 November 2008, telah diselenggarakan suatu lokakarya perencanaan penerapan “Pos Gizi” di kecamatan Teluk Dalam dan Lagundri untuk membangun komitmen bersama bagi penyelenggaraan Pos Gizi.

Bagaimana Pelaksanaan Lokakarya?

Lokakarya ini dikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari Kepala Dinas Kesehatan Teluk Dalam, 4 orang Camat, 2 Ka Puskesmas, para staf Puskesmas, para Bidan Desa, para Kepala Desa dan aparat desa lainnya, dan staf SurfAid. Lokakarya ini dilaksanakan dalam bentuk panel diskusi dengan panelis sbb:

  1. Kepala Puskesmas Teluk Dalam (Adifiat Sarumaha) dan Lagundri (diwakili oleh Sumardin) masing-masing menyampaikan pencapaian program revitalisasi posyandu, tantangan dan alternatif solusi.
  2. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Dalam (Rachmat Alyakin Dachi) menyampaikan rencana strategis pembangunan kesehatan kab. Teluk Dalam.
  3. Program Manager SurfAid (Declan Herne) menyampaikan Program Kesehatan Berbasis Masyarakat -Nias
  4. Manager Program Gizi – SurfAid (Sam Nuhamara) menyampaikan PD Pos Gizi suatu strategi efektif dalam pengurangan angka kekurangan gizi pada balita

Setelah semua panelis menyampaikan presentasinya dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi kelompok. Dua kelompok membahas peran dan tanggung jawab masing-masing pihak dan 2 kelompok membahas rencana tindak lanjut setelah lokakarya selesai.

Apa Hasil Lokakarya?

  1. Teluk Dalam “Sehat” 2011 menurut Ka Dinkes adalah masyarakat mampu dan memiliki kemauan melakukan perilaku hidup sehat keluarga khususnya dalam perbaikan gizi anak. Posyandu merupakan program kesehatan berbasis masyarakat yang harus mendapatkan dukungan semua pihak mulai dari pemerintah kecamatan, desa, dan PKK.
  2. Pemerintah kecamatan dan desa mendesak pemerintah khususnya Dinkes untuk memastikan tenaga bidan tinggal di desa, pengadaan tenaga ahli gizi di Puskesmas dan peningkatan pelayanan kesehatan di desa melalui kunjungan regular dan pembangunan Pustu dan Poskesdes di wilayah yang selama ini kurang terjangkau.
  3. Pemerintah Kecamatan dan Desa mendukung dibentuknya Tim Kesehatan Desa yang bertanggung jawab dalam perencanaan, pengawasan kegiatan kesehatan desa, melakukan koordinasi dan advokasi ke berbagai pihak terkait, melakukan mobilisasi masyarakat untuk berperan serta secara aktif dalam program kesehatan.
  4. Adanya dukungan dan komitmen Pemerintah Kecamatan dan Desa dalam pelaksanaan program kesehatan berbasis masyarakat khususnya kegiatan “pos gizi”, namun diharapkan SurfAid mengembangkan program lain khususnya untuk perbaikan gizi ibu hamil, air bersih dengan tetap memperhatikan aspek kesinambungan program.
  5. SurfAid diharapkan meningkatkan pemahaman masyarakat khususnya para ibu mengenai pentingnya gizi dan pengenalan berbagai makanan bergizi yang ada di Nias dan cara pengolahan makanan bergizi.
  6. Ditegaskan pula oleh Declan Hearne bahwa SurfAid tidak dapat memberikan insentif kepada relawan dan kader karena tidak dapat berkesinambungan jika SurfAid berhenti. Pemda dan Dinas kesehatan tidak mengalokasikan dana insentif kepada para kader. Para Camat dan Kepala Desa bersama tokoh masyarakat dan SurfAid perlu mengembangkan suatu sistem penghargaan yang efektif dan berkesinambungan bagi kader yang telah bekerja keras.
  7. Diharapkan peran aparat desa dalam sosialisasi fasilitas rawat jalan di Puskesmas, pembagian kartu Jamkesmas kepada yang layak mendapatkan.

Apa Saja Peranan dan Tanggung Jawab Masing-Masing Pihak?

MASYARAKAT

Pengasuh/Peserta PG

Kader PG

Tokoh Masyarakat

1. Hadir setiap hari selama 12 hari berturut-2 (sekitar 2 jam/hari)

2. Membawa kontri busi bahan makanan PD

3 Terlibat dalam seluruh kegiatan praktek di PG

1. Membimbing, mendorong dan mengawasi peserta PG dalam berbagai kegiatan praktek

2. Menyampaikan pesan kesehatan dan gizi

3. Melakukan Penimbangan

1. Mendukung dan berkontribusi dalam kegiatan PG

2. Memobilisasi masyarakat agar mendukung dan ikut berkontribusi

3. Mengawasi jalannya kegiatan PG

4. Memastikan adanya kegiatan posyandu

5. Memfasilitasi keluarga untuk memeriksakan kesehatan ke petugas atau puskesmas jika menderita penyakit

PUSKESMAS/PUSTU

SURFAID



1. Melakukan pemeriksaan kepada peserta

2. Memastikan peserta telah mendapatkan imunisasi lengkap, vit A, obat cacing, zat besi, pemeriksaan ibu hamil sesuai standar

3. Menyediakan materi dan menyampaikan penyuluhan

4. Memastikan kehadiran petugas pada setiap hari H posyandu.

5. Melakukan pelatihan kader PG

1. Menyediakan perlengkapan PG dan peralatan masak-memasak.

2. Bersama Puskesmas melakukan pelatihan kader

3. Memberikan pelatihan Kader PG

4. Memantau pelaksanaan PG


Apa Rencana Tindak Lanjut?

Tokoh Masyarakat

  1. Memobilisasi masyarakat untuk ikut posyandu, imunisasi dan pos gizi pada tanggal 9 November (Hilitobara)
  2. Memobilisasi ibu-ibu pengasuh untuk hadir di PG tanggal 17 November (Hilitobara)
  3. Penyuluhan Gizi tanggal 12 Nopember (Hilitobara)
  4. Mengawasi kader PG (ketika PG berjalan)
  5. Menyediakan bahan dan perlengkapan PG (ketika PG berjalan)

Puskesmas /Pustu

1. Penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan kepada bayi, balita dan ibu hamil (Hilitobara)

2. Pemberian Vitamin A dan obat cacing kepada balita setiap bulan Februari dan Agustus (Hilitobara dan desa lainnya)

3. Memberi Penyuluhan Gizi dan mendampingi kader

SurfAid

1. Pelatihan kader PG/pertemuan KPK tanggal 7 November (Hilitobara)

2. Pertemuan ibu-ibu peserta PG tanggal 11 November (Hilitobara)

3. Pos Gizi dimulai tanggal 17 November (Hilitobara)

4. Evaluasi Pos Gizi tanggal 24 November (Hilitobara)

5. Menyediakan buku panduan PG dan perlengkapan PG termasuk Megapon

Apa Kekuatan PD-Pos Gizi ?

Bahwa solusi atas masalah kekurangan gizi sebesar 37% di wilayah ini sebenarnya sudah ada yaitu sebesar 63% di setiap kelompok masyarakat tersebut dan hanya perlu menemukan strateginya melalui suatu penyelidikan PD.

Cepat karena semua keluarga dengan anak kurang gizi diikutkan dalam pos gizi untuk praktek masak-memasak, cuci tangan, sikat gigi, gunting kuku, memberi makan secara aktif, dll, dan ketika kembali ke rumah mempraktekkan berbagai pesan kesehatan

Murah karena para pengasuh membawa kontribusi bahan makanan lokal yang tersedia dan sudah terbukti bahwa jenis makanan tersebut telah menyebabkan anak sehat karena lebih sering diberikan, lebih banyak porsi yang dimakan dan bervariasi dari hari ke hari.

Berkesinambungan karena berbagai kebiasaan baru yang dipraktekkan di rumah akan menjadikan suatu perilaku hidup sehat keluarga sehingga anak yang akan lahir kemudian tidak mengalami kekurangan gizi.

Masyarakat Termobilisasi karena dengan kesadaran dan komitmen bersama masyarakat akan saling mengasihi, peduli dan berbagi sebagai suatu budaya yang telah diterima oleh semua pihak.

Apa Tujuan Pos Gizi?

1. Merehabilitasi anak-anak malnutrisi

2. Mempertahankan status gizi baik dengan melakukan kebiasaan baru di rumah

3. Mencegah terjadinya anak malnutrisi di masa yang akan datang


Apa yang Harus Kita Lakukan Hari Ini?

NAMA ANAK ITU ADALAH
“HARI INI”

Kita mempunyai banyak kesalahan,

tetapi kesalahan kita terbesar adalah

menelantarkan anak-anak sebagai kehidupan masa depan

Kebutuhan kita dapat ditunda tetapi

kebutuhan anak tidak dapat ditunda.

Saat ini merupakan waktu terbentuknya

tulang- tulang mereka, darah mereka sedang dibuat,

perasaan mereka sedang berkembang

Bagi mereka kita tidak dapat menjawab “besok”

Nama mereka adalah “ hari ini”

Nama Anak itu adalah “Hari Ini”

oleh Gabriele Mistral (Pemenang hadiah Nobel di bidang puisi dari Chili)

Selasa, November 25, 2008

Kamis, November 20, 2008

Pos Gizi Akhirnya Terlaksana di Nias



Setelah sekitar 4 bulan (sejak Juni 2008) melakukan persiapan, pada akhirnya Pos Gizi dengan menggunakan pendekatan PD (Positive Deviance) dapat dimulai di desa Ombolata, Sirombu pada tanggal 27 Oktober 2008.

Persiapan yang dilakukan meliputi orientasi dan pelatihan PD kepada seluruh staf lapangan untuk mendapatkan pemahaman bersama mengenai konsep dan implementasinya, penyelidikan PD untuk menemukan perilaku PD, pertemuan tokoh masyarakat disetiap desa untuk membangun kesadaran dan komitmen bersama.

Adanya kenyataan bahwa tingkat kehadiran di posyandu sangat rendah maka pada bulan Agustus dan September 2008 dilakukan penimbangan balita secara menyeluruh (screening) untuk mendapatkan angka kekurangan gizi yg sesungguhnya di setiap desa, mobilisasi masyarakat melalui pemicuan, pelatihan kader dan relawan pos gizi dan akhirnya pertemuan para ibu pengasuh untuk mendapatkan komitmen keikutsertaan mereka.

Sesi pertama pos gizi di Ombolata diikuti oleh 16 peserta yang berusia 1 - 4,5 tahun. Pembukaan pos gizi ini dibuka oleh kepala desa Ombolata. dan dihadiri oleh kepala Puskesmas Sirombu, Manager Program SurfAid International dan staff SurfAid, tokoh masyarakat, relawan, kader dan ibu-ibu peserta pos gizi. Kepala Puskesmas Sirombu pun menyampaikan dukungan pelaksanaan pos gizi dalam berbagai pelayanan kesehatan lainnya seperti imunisasi, pemberian obat cacing, vitamin A dan pemeriksaan kesehatan bagi anak-anak peserta pos gizi.

Program Manajer SurfAid mengulangi kembali kesepakatan bersama masyarakat untuk menurunkan angka kekurangan gizi di Ombolata sebesar 50% pada akhir program. Strategi yang diyakini untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui pos gizi.

Ditekankan pula 3 tujuan pos gizi yaitu :
1.Merehabilitasi gizi anak-anak yg mengalami kekurangan gizi saat ini
2. Mempertahankan status gizi anak yg sudah mengalami perbaikan.
3. Mencegah terjadinya kekurangan gizi bagi anak-anak yg akan lahir kemudian

Selasa, November 18, 2008

Positive Deviance Inquiry

Dalam rangka mengurangi angka gizi buruk di empat kecamatan dampingan (Teluk Dalam, Afulu, Sirombu, dan Alasa), SurfAid International mengadakan pendekatan Positive Deviance (PD) dan Pos Gizi.

PD & Pos gizi merupakan pendekatan yang sukses dalam mengurangi angka kekurangan gizi. Model pendekatan PD dan Pos gizi telah terbukti sukses diterapkan untuk pertama kali di wilayah Asia yakhi di Vietnam pada tahun 1990. Pada tahun-tahun selanjutnya, metode ini mulai diadopsi di negara-negara lain seperti Haiti, Bangladesh, dan Thailand.

Program PD merupakan sebuah pendekatan untuk mengidentifikasi/mempelajari berbagai perilaku dari ibu atau pengasuh yang memiliki anak bergizi baik tetapi dari keluarga kurang mampu. Dalam sebuah daerah yang tertinggal sekalipun pasti akan didapatkan kasus seperti ini. Dari cara memberi makan anak, perawatan, pengasuhan dan menjaga kebersihan anak mereka kita belajar. Karena dialah orang yang sukses mengatasi masalah gizi secara sederhana. Mengapa? Karena seharusnya orang miskin akan mengalami kasus gizi kurang. Tetapi pada kasus deviasi positif hal ini tidak berlaku.

Sebagai contoh kasus, di Vietnam, para penduduk lokal yang telah dilatih mengindentifikasikan keluarga-keluarga yang sangat miskin namun memiki anak dengan gizi baik. Orang-orang yang telah dilatih ini pergi ke rumah-rumah mereka untuk mempelajari perilaku unik yang membuat mereka memiliki anak yang lebih sehat daripada tetangganya. Ternyata ditemukan bahwa pada setiap keluarga miskin dengan anak bergizi baik, sang ibu atau pengasuh mengumpulkan daun-daun ubi dan pergi ke sawah untuk mengumpulkan udang dan kepiting kecil sebagai tambahan makanan anak. Berdasarkan penemuan-penemuan ini, sebuah program pendidikan dan rehabilitasi gizi (Pos gizi) dapat dikembangkan. Ibu atau pengasuh dari anak yang mengalami kekurangan gizi diundang untuk menghadiri kegiatan Pos Gizi dan belajar mengasuh anak dari tetangganya yang anaknya tidak kurang gizi. Program ini ternyata berhasil. Dari sekitar 700 anak bergizi buruk yang mengikuti program ini, ternyata 95% berhasil keluar dari status gizi buruk setelah dua tahun kemudian dipantau ulang. Tingkat kemajuan tersebut didapat saat melakukan observasi selama 14-23 bulan setelah mengikuti Pos gizi.

Berdasarkan contoh di Vietnam, maka pada saat ini staf Surfaid sedang diarahkan untuk mengadakan penyelidikan atau pencarian data (PDI = PD Inquiry = penyelidikan penyimpangan positif) untuk menemukan kebiasaan-kebiasaan unik di masyarakat desa terutama dari keluarga pra-sejahtera, namun kebiasaan atau perilaku tersebut sangat baik untuk ditiru demi peningkatan gizi anak.

Apabila kebiasaan-kebiasaan ini telah ter-identifikasi maka pendekatan selanjutnya adalah dengan mendirikan pos gizi. Pada pendekatan pos gizi, para kader, relawan dan ibu balita/pengasuh anak-anak kurang gizi mempraktekkan berbagai perilaku dalam hal memasak, pemberian makan, kebersihan dan pengasuhan anak yang telah terbukti berhasil dalam meningkatkan kembali gizi anak-anak sebagaimana yang dilakukan oleh keluarga-keluarga pelaku penyimpangan positif.

Untuk menentukan status gizi anak, maka perlu diadakan penimbangan berat badan dengan menggunakan tabel NCHS - Z score berdasarkan berat badan per umur. Penimbangan badan dilakukan pada semua balita yang ada di suatu desa, tanpa terkecuali (screening) sehingga diperoleh data pasti jumlah anak penderita gizi buruk. Lalu dilakukan mapping untuk menandai letak dimana terdapat kasus gizi buruk yang akan memudahkan dalam menentukan posisi strategis pengadaan Pos Gizi. Posisi strategis dimaksud untuk memudahkan akses peserta untuk datang ke Pos Gizi yang akan dibentuk.

pembahasan lebih lanjut mengenai Positive Deviance dan Pos Gizi klik disini

Senin, Juni 30, 2008

Partisipasi Masyakat Desa Hilimaenamolo Teluk Dalam dan Dusun Balogawu Sirombu


Sebuah Pembelajaran Keberhasilan Program

Keberhasilan sebuah program dengan mengandalkan partisipasi murni masyarakat dalam kancah pembangunan Nias pasca bencana, tidaklah gampang untuk diraih oleh SurfAid. Dimana SurfAid banyak menemukan berbagai kesulitan, hal ini disebabkan banyak INGO yang mengimplementasikan program dalam satu wilayah dengan SurfAid menggunakan pendekatan charity and cash for work sehingga menimbulkan sisi negatif yang menciptakan pola ketergantungan masyarakat. Namun meskipun demikian, perlu dicatat bahwa SurfAid berhasil dalam implementasi watsan project. Keberhasilan ini dapat diukur dari aspek community participation dan aspek perubahan perilaku bersih. Pada contoh kasus masyarakat desa Hilimaenamolo, dalam pembangunan gravity system pada pemandian umum laki-laki dan perempuan, partisipasi masyarakat sangat tinggi dalam bergotong royong mulai dari proses membangun water spring box hingga pembenahan tempat pemandian dilaksanakan dengan waktu relatif cepat tanpa ada upah atau penyediaan biaya konsumsi untuk masyarakat yang bekerja. Bila dibandingkan desa-desa wilayah dampingan Watsan Project, partisipasi masyarakat dapat dikategorikan aktif.

Sementara di desa-desa lain banyak ditemukan kesulitan dalam mendorong masyarakat partisipasi untuk bergotong royong karena masyarakat sudah terbiasa dengan pola cash for work, minimal mereka minta difasilitasi konsumsi makan siang ataupun rokok. Sehingga kondisi ini membuat terhambatnya proses pengerjaan dan tidak sesuai dengan deadline. Dari aspek hygiene promotion, terbangunnya pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk melindungi sumber air dari kotoran dan mulai menggunakan air yang bersih dari mata air yang terlindungi. Hal ini merupakan langkah awal perubahan perilaku untuk terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh air.

Pada sisi lain, kondisi ini juga ditemukan di Dusun Balogawu Sirombu, dimana Watsan Project berhasil dalam melaksanakan Program Sadar Jamban Non Subsidi dengan pendekatan CLTS. Keberhasilan yang dapat diukur adalah aspek partisipasi masyarakat, 6 orang ibu mampu mengorganisir dirinya dalam kelompok kecil dan terpicu untuk membangun jamban sederhana. Dalam membangun kakus sederhana anggota KSJ (Kelompok Sadar Jamban) yang terdiri dari kaum ibu ini secara bergotong royong bergantian membangun kakus. Mereka membuat jadwal gotong royong jam 12.00-16.00 dari hari Senin-Jumat. Penentuan jadwal kerja ini mereka sepakati karena mereka hanya bisa menyediakan waktu setelah pulang dari ladang. Meskipun mereka hanya bergotong royong selama 4 jam/hari, mereka terlihat kompak dan menciptakan kebersamaan. Kelompok ini telah membangun 6 unit jamban sederhana tanpa subsidi dari SurfAid. Sedangkan aspek hygiene promotion, terbangun kesadaran dan kemandirian kaum ibu tentang pentingnya sanitasi serta adanya perubahan pemahaman tentang pembuatan kakus yang selama ini mahal. Dengan memanfaatkan material yang ada disekitar tempat tinggal, mereka mampu membangun latrine dengan biaya yang sangat murah. Material yang dibelinya hanya corong minyak digunakan sebagai lobang untuk mencetak closet.

Dampak dari adanya kesadaran yang dimiliki, KSJ ini melakukan pemicuan pada kelompok lain dengan cara berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan kelompok lain yang berjumlah 5 orang (sebagian berasal dari dusun tetangga yaitu Dusun Awa’ai). Meskipun pemicuan yang dilakukan oleh KSJ masih didampingi oleh SCF (Senior Community Facilitator), namun mereka secara perlahan sudah menunjukan kemampuan untuk mengambil alih penyebaran informasi program. Sehingga ini dapat membentuk efek bola salju (snow ball) dalam membangun jaringan Aksi Gerakan Sadar Jamban Non Subsidi.

Dibalik keberhasilan ini, ada banyak faktor yang melatar belakanginya diantaranya;

1) Assessment, dalam penggalian informasi yang dilakukan analisisnya tepat dalam menilai dan dapat membedakan antara kebutuhan dengan keinginan masyarakat.

2) Skill yang dimiliki dan pendekatan yang dilakukan oleh staf lapangan dalam mengorganisir masyarakat, hal ini tentunya terkait dengan kemampuan seorang staf lapangan dalam mengakomodir kepentingan berbagai pihak.

3) Sedikitnya NGO yang bekerja di daerah ini dalam membangun konstruksi yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat yaitu kebutuhan dasar terhadap air bersih.

4) Stakeholder desa cukup kooperatif dalam mendukung proses implementasi serta mendorong masyarakat bergotong royong.

Namun demikian, proses pembelajaran yang dapat direkam ;

a. Adanya proses pembelajaran bagi masyarakat, dimana masyarakat mampu mengidentifikasi kebutuhan yang terkait dengan pentingnya air bersih dan sanitasi. Masyarakat mulai mengetahui bahwa sanitasi itu sangat penting buat mereka.

b. Adanya proses perubahan perilaku dari masyarakat desa Hilimaenamolo dan Dusun Balogawu.

c. Adanya semangat gotong royong masyarakat desa Hilimaenamolo dapat menyatukan berbagai kelompok kepentingan dalam satu pemahaman tentang pentingnya air bersih bagi kehidupan masyarakatnya.

d. Adanya semangat gotong royong kaum perempuan di Dusun Balogawu yang menunjukkan kemampuan perempuan untuk melakukan perubahan meskipun mereka bukan sebagai kunci pengambil keputusan untuk terjadinya perubahan masyarakatnya. Dengan kata lain, perempuan mampu menunjukan kefleksibelannya dalam melakukan perubahan dan mudah bekerjasama daripada laki-laki.

e. Terlokalisirnya tinja dari 6 KK (punya jamban) di Dusun Balogawu ini memberikan dampak ikutan terhadap penurunan angka pencemaran air sungai dari tinja mereka, mengingat masih adanya KK yang tinggal di muara dan mengakses air sungai tersebut.

By: Tisnawati

Minggu, Mei 18, 2008

Workshop Revitalisasi Posyandu



Untuk menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah Kabupaten Nias dan Nias Selatan dalam upaya revitalisasi posyandu di daerah sasaran program Surfaid International, tanggal 14 & 16 Mei 2008 lalu Surfaid International mengadakan workshop yang bertemakan Revitalisasi Kesehatan Masyarakat ”Hubungan Berkualitas, hasil Berkualitas”.

Surfaid menyadari bahwa merubah kesehatan masyarakat melalui revitalisasi posyandu dan kesehatan harus didukung sepenuhnya oleh pemerintah Kabupaten Nias sehingga dalam pelaksanaannya ke depan tidak mendapat kendala terutama terkait masalah prosedur/birokrasi. Workshop yang diadakan di Gunung Sitoli dan Teluk Dalam ini dihadiri oleh kepala dinas maupun perwakilan instansi terkait seperti kepala Puskesmas, PKK, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian & KPIPPK, dan BPM.

Wokshop tersebut diawali dengan presentasi dari pihak Surfaid yakni Declan Hearne (Program Manager Nias) dan Bapak Saiful Sofjan (Konsultan CBHP) mengenai hasil KAP survey yang telah diadakan di empat kecamatan yakni Teluk Dalam, Sirombu, Afulu dan Alasa. Survey KAP (Knowledge, Attitude, Practice) diadakan oleh Surfaid International dengan memakai jasa SEAMEO-TROPMED RCCN-UI, sebuah lembaga independent, untuk mengukur pengetahuan, perilaku dan praktek kesehatan sehari-hari yang terjadi di tingkat masyarakat Nias. Berdasarkan hasil Survey KAP diperoleh kesimpulan bahwa tingkat kesehatan masyarakat harus lebih ditingkatkan.

Usai penjelasan mengenai hasil KAP Survey, kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang membahas data-data hasil dari KAP survey dan mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada. Para peserta dibagi ke dalam 3 kelompok diskusi yang masing-masing membahas tiga topik diskusi yang berbeda. Topik yang dibahas adalah mengenai rencana aksi untuk revitalisasi posyandu, rencana aksi untuk struktur dasar desa (PKK, LKMD, TKD, dll), dan rencana aksi untuk ketahanan pangan di masyarakat.

Hasil diskusi dan pembahasan ini diharapkan untuk ditindaklanjuti oleh masing-masing pihak. Surfaid sebagai lembaga non pemerintah akan membantu mensosialisasikan tentang revitalisasi Posyandu di desa-desa dampingan dengan dukungan sepenuhnya dari dinas-dinas pemerintah terkait dan juga tokoh masyarakat.

Kamis, Mei 01, 2008

Perkenalan: SurfAid International dan CBHP


SurfAid International adalah lembaga kemanusiaan nirlaba yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil yang memiliki hubungan dengan SurfAid melalui kegiatan selancar.

Pada dasarnya SurfAid berawal dari dukungan dunia selancar internasional, baik dari segi pendanaan maupun dari segi strategi dan moril. SurfAid didirikan pada tahun 1999, yang bertujuan untuk menanggapi kebutuhan masyarakat Mentawai dan Nias dengan cara profesional, terbuka dan pemberdayaan masyarakat.

Pada kejadian bencana alam tsunami yang melanda Nias pada akhir Desember 2004, SurfAid turut mengambil bagian dalam upaya memberikan bantuan di bidang kesehatan. SurfAid membentuk dan menggerakkan Tim Darurat penanggulangan bencana. Tim darurat ini mendirikan klinik keliling yang bertujuan melakukan pencegahan penyakit yang mungkin timbul di masyarakat Nias melalui kegiatan yang berfokus pada gizi, imunisasi dan malaria. Sejak kejadian ini , SurfAid membuat komitmen jangka panjang untuk terus bekerja di Kepulauan Nias dan mulai merancang strategi jangka panjang dan pelaksanaannya. Ketika Nias dilanda gempa bumi pada tanggal 28 Maret 2005, SurfAid dalam posisi siap membantu dengan melakukan kegiatan operasi tanggap darurat skala besar, seperti operasi pencarian korban, penyelamatan korban dan penyebaran bantuan darurat seperti makanan, pakaian dan kelambu.

Filosofi pembangunan SurfAid adalah ‘membantu, bukan memberi’. SurfAid membantu masyarakat agar dapat menjaga dan memelihara kesehatannya.

Dengan mendorong keikutsertaan masyarakat, SurfAid bertujuan memberdayakan masyarakat dan mengembangkan program kesehatan berbasis masyarakat (CBHP = Community Based Health Program) seperti pengendalian penyakit malaria, peningkatan status gizi masyarakat, kebersihan dan sanitasi lingkungan dan menurunkan angka kematian penderita penyakit khususnya penderita penyakit saluran pernafasan dan diare yang sering terjadi di masyarakat.

Salah satu program yang dilaksanakan adalah pemberdayaan masyarakat lokal untuk tetap melakukan peningkatan kesehatan dan mutu hidupnya secara mandiri. Program ini dirancang dengan bekerja bersama pemerintah daerah dan LSM bertujuan untuk membawa terjadinya perubahan secara tetap sehingga nantinya memiliki program kesehatan dan memastikan bahwa peningkatan kesehatan tetap ada setelah program selesai.