Sebuah Pembelajaran Keberhasilan Program
Keberhasilan sebuah program dengan mengandalkan partisipasi murni masyarakat dalam kancah pembangunan Nias pasca bencana, tidaklah gampang untuk diraih oleh SurfAid. Dimana SurfAid banyak menemukan berbagai kesulitan, hal ini disebabkan banyak INGO yang mengimplementasikan program dalam satu wilayah dengan SurfAid menggunakan pendekatan charity and cash for work sehingga menimbulkan sisi negatif yang menciptakan pola ketergantungan masyarakat. Namun meskipun demikian, perlu dicatat bahwa SurfAid berhasil dalam implementasi watsan project. Keberhasilan ini dapat diukur dari aspek community participation dan aspek perubahan perilaku bersih. Pada contoh kasus masyarakat desa Hilimaenamolo, dalam pembangunan gravity system pada pemandian umum laki-laki dan perempuan, partisipasi masyarakat sangat tinggi dalam bergotong royong mulai dari proses membangun water spring box hingga pembenahan tempat pemandian dilaksanakan dengan waktu relatif cepat tanpa ada upah atau penyediaan biaya konsumsi untuk masyarakat yang bekerja. Bila dibandingkan desa-desa wilayah dampingan Watsan Project, partisipasi masyarakat dapat dikategorikan aktif.
Sementara di desa-desa lain banyak ditemukan kesulitan dalam mendorong masyarakat partisipasi untuk bergotong royong karena masyarakat sudah terbiasa dengan pola cash for work, minimal mereka minta difasilitasi konsumsi makan siang ataupun rokok. Sehingga kondisi ini membuat terhambatnya proses pengerjaan dan tidak sesuai dengan deadline. Dari aspek hygiene promotion, terbangunnya pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk melindungi sumber air dari kotoran dan mulai menggunakan air yang bersih dari mata air yang terlindungi. Hal ini merupakan langkah awal perubahan perilaku untuk terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh air.
Pada sisi lain, kondisi ini juga ditemukan di Dusun Balogawu Sirombu, dimana Watsan Project berhasil dalam melaksanakan Program Sadar Jamban Non Subsidi dengan pendekatan CLTS. Keberhasilan yang dapat diukur adalah aspek partisipasi masyarakat, 6 orang ibu mampu mengorganisir dirinya dalam kelompok kecil dan terpicu untuk membangun jamban sederhana. Dalam membangun kakus sederhana anggota KSJ (Kelompok Sadar Jamban) yang terdiri dari kaum ibu ini secara bergotong royong bergantian membangun kakus. Mereka membuat jadwal gotong royong jam 12.00-16.00 dari hari Senin-Jumat. Penentuan jadwal kerja ini mereka sepakati karena mereka hanya bisa menyediakan waktu setelah pulang dari ladang. Meskipun mereka hanya bergotong royong selama 4 jam/hari, mereka terlihat kompak dan menciptakan kebersamaan. Kelompok ini telah membangun 6 unit jamban sederhana tanpa subsidi dari SurfAid. Sedangkan aspek hygiene promotion, terbangun kesadaran dan kemandirian kaum ibu tentang pentingnya sanitasi serta adanya perubahan pemahaman tentang pembuatan kakus yang selama ini mahal. Dengan memanfaatkan material yang ada disekitar tempat tinggal, mereka mampu membangun latrine dengan biaya yang sangat murah. Material yang dibelinya hanya corong minyak digunakan sebagai lobang untuk mencetak closet.
Dampak dari adanya kesadaran yang dimiliki, KSJ ini melakukan pemicuan pada kelompok lain dengan cara berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan kelompok lain yang berjumlah 5 orang (sebagian berasal dari dusun tetangga yaitu Dusun Awa’ai). Meskipun pemicuan yang dilakukan oleh KSJ masih didampingi oleh SCF (Senior Community Facilitator), namun mereka secara perlahan sudah menunjukan kemampuan untuk mengambil alih penyebaran informasi program. Sehingga ini dapat membentuk efek bola salju (snow ball) dalam membangun jaringan Aksi Gerakan Sadar Jamban Non Subsidi.
Dibalik keberhasilan ini, ada banyak faktor yang melatar belakanginya diantaranya;
1) Assessment, dalam penggalian informasi yang dilakukan analisisnya tepat dalam menilai dan dapat membedakan antara kebutuhan dengan keinginan masyarakat.
2) Skill yang dimiliki dan pendekatan yang dilakukan oleh staf lapangan dalam mengorganisir masyarakat, hal ini tentunya terkait dengan kemampuan seorang staf lapangan dalam mengakomodir kepentingan berbagai pihak.
3) Sedikitnya NGO yang bekerja di daerah ini dalam membangun konstruksi yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat yaitu kebutuhan dasar terhadap air bersih.
4) Stakeholder desa cukup kooperatif dalam mendukung proses implementasi serta mendorong masyarakat bergotong royong.
Namun demikian, proses pembelajaran yang dapat direkam ;
a. Adanya proses pembelajaran bagi masyarakat, dimana masyarakat mampu mengidentifikasi kebutuhan yang terkait dengan pentingnya air bersih dan sanitasi. Masyarakat mulai mengetahui bahwa sanitasi itu sangat penting buat mereka.
b. Adanya proses perubahan perilaku dari masyarakat desa Hilimaenamolo dan Dusun Balogawu.
c. Adanya semangat gotong royong masyarakat desa Hilimaenamolo dapat menyatukan berbagai kelompok kepentingan dalam satu pemahaman tentang pentingnya air bersih bagi kehidupan masyarakatnya.
d. Adanya semangat gotong royong kaum perempuan di Dusun Balogawu yang menunjukkan kemampuan perempuan untuk melakukan perubahan meskipun mereka bukan sebagai kunci pengambil keputusan untuk terjadinya perubahan masyarakatnya. Dengan kata lain, perempuan mampu menunjukan kefleksibelannya dalam melakukan perubahan dan mudah bekerjasama daripada laki-laki.
e. Terlokalisirnya tinja dari 6 KK (punya jamban) di Dusun Balogawu ini memberikan dampak ikutan terhadap penurunan angka pencemaran air sungai dari tinja mereka, mengingat masih adanya KK yang tinggal di muara dan mengakses air sungai tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar